Rabu, 15 Februari 2012

BAHAYA MEDIA TERHADAP PERKEMBANGAN OTAK DAN PERILAKU ANAK

Anak dan Kesehatan Otak
Anak adalah anugerah yang indah bagi siapapun. Senangkah ibu dan bapak ketika melihat anak kita tersenyum gembira, bermain dengan riang ?
Begitu indahnya mereka sebagai ciptaan Tuhan. Bukankah sudah seharusnya tanggungjawab kita untuk merawat dan menjaga mereka, supaya menjadi anak yang tangguh, sehat dan cerdas.  Salah satu ciri anak yang cerdas adalah anak yang memiliki otak yang sehat. Tentunya kita selalu ingin agar anak berkembang dengan baik, juga memiliki otak yang sehat.

Apa sih otak itu ?
Apakah ibu dan bapak sudah tahu apa itu otak dan apa fungsinya ? Jika belum, mari berkenalan dengan otak dan fungsinya. Otak adalah orgran badan yang paling utama yang penempatannya di dalam tengkorak. Dengan otak anak kita dapat berpikir dan bertindak terhadap banyak hal. 

Tahukah ibu dan bapak, bahwa ternyata otak manusia mempunyai dua bagian yaitu otak kanan dan otak kiri. Otak kanan mempunyai tugas untuk membantu anak berpikir dan memahami symbol, warna, musik, dan kasih sayang. Otak kanan jugalah yang membantu anak kita untuk berpikir kreatif dan berimajinasi.  Sementara otak kiri mempunyai tugas membantu anak berpikir ilmiah dan kritis, misalnya tentang berhitung, bahasa dan bertindak teratur.  Otak merupakan pusat pengendali, yang mengatur semua perilaku, kegiatan, dan gerakan tubuh anak.  Di dalam otak ada syaraf-syaraf yang bertugas member perintah dan komando pada tubuh anak untuk berpikir apa, melakukan apa, atau untuk berbicara apa.  Jadi jika perkembangan otak anak sehat, pastinya mereka bisa berkreativitas, bergerak dan belajar dengan baik. Menyenangkan bukan ?
Ibu dan Bapak, saat bayi kita lahir, otak bayi bisa diibaratkan seperti kantong yang masih kosong. Kita sebagai orangtua dan pendidik merupakan orang-orang yang terdekat mereka, dan karenanya kitalah yang paling punya kesempatan untuk membantu mengisi kantong tersebut.

Bagaimana Cara Otak Berkembang ?
Sudahkah Ibu dan Bapak mengetahui bagaimana caranya otak berkembang? Ternyata otak, seperti juga bagian tubuh yang lain, juga mengalami perkembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan otak anak telah berkembang 50% pada anak usia 0-4 tahun. Sementara pada usia 8 tahun pekembangan otaknya telah mencapai 80%. Dan akhirnya saat ia berusia 18 tahun otak anak akan berhenti berkembang.
Artinya, betapa pentingnya kita yang telah diberikan amanah oleh Tuhan untuk memperhatikan perkembangan otak anak tersebut. Ini karena perkembangan otak anak sampai 4 tahun pertama menjadi hal yang paling penting, menentukan kecerdasan anak kelak. Luar biasa !!!. Begitu pentinya ini sehing disebut dengan Golden Age (usia emas). Karena itu, perhatian orang tua pada perkembangan anak sangat penting untuk dilakukan pada masa-masa 4 tahun pertama ini.

Bagaimana otak bekerja ?
Informasi, pesan, atau rangsangan yang masuk ke dalam otak dari lingkungan atau dari luar diri anak, adalah hal-hal yang membuat otak bekerja, misalnya suara music, gambar, tayangan televise dan film.
Ibu dan Bapak pasti sudah tahu bahwa otak dapat menyerap jutaan informasi dalam satu detik. Oleh karena itu, para orangtua atau pendidik harus mengetahui cara menjaga otak anak, supaya perkembangan otak anak dapat bekerja dengan baik.
Agar otak anak tetap sehat, orangtua sebagai pendidik pertama dan utama, perlu memberikan rangsangan kepada otak anak melalui seluruh panca indera mereka dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat.

Dampak Media Terhadap Kerja Otak dan Perilaku Anak ?
Isi dan pesan tayangan TV tadi bisa menjadi salah satu pemicu yang membuat otak anak bekerja. Bisakah ibu dan bapak bayangkan apa yang akan tersimpan di otak anak jika menonton tayangan televise yang menampilkan secara terus menerus tontonan yang berisi kekerasan, pornografi, horror atau pesan-pesan lainnya yang dianggap tidak bermanfaat ?

Tetapi apakah kita ingin otak anak bekerja dengan hal-hal yang banyak berisi pesa tidak bermanfaat ? Jika pesan yang diterima negative, maka anak bisa rusak oleh pesan yang negative. Penelitian YPMA (Yayasan Pengembangan Media Anak) tahun 2006, memperlihatkan bahwa anak-anak Indonesia rata-rata menonton televise selama sekitar 35 – 40 jam seminggu, dengan pilihan acara yang tidak aman dan tidak sehat (negatif). Seperti tayangan TV kartun Sincan, Doraemon, Naruto, Tom and jerry, Dragon Ball, sinetron/film dewasa, serta music dan lagu dewasa. Padahal banyak fakta dan hasil penelitian yang membuktikan bahwa dengan menonton televisi secara terus-menerus mengakibatkan :
  • Anak menjadi kecanduan yang dapat menyebabkan kerusakan otak
  • Anak yang sering menonton TV otakanya akan cepat lelah.
  • Gelombang cahaya tinggi yang dipancarkan oleh layar kaca televise juga akan mengganggu organ mata da konsentrasi anak.
  • Struktur otak anak berubah ddan ingatan atau memori akan cepat berubah. Akibatnya anak akan menjadi pelupa.
  • Gambar dari layar TV bisa berjalan ke otak kurang dari satu detik. Tanpa sadar struktur otak dan memori/ingatan anak berubah.
  • Terlalu sering melihat satu objek seperti tayangan TV akan membuat syaraf-syaraf otak hanya fokus pada benda tersebut. Kemudian otak akan memerintah anak untuk malas berfikir dan membuat anak kurang terkontrol geraknya.
  • Sel syaraf otak kurang tumbuh dan berkembang karena kurang rangsangan dari yang lain. Lama kelamaan otak akan menjadi tumpul dan tidak bisa berfikir serius. Dan pada akhirnya anak akan malas belajar.
Beberapa hasil penelitian lain juga mengingatkan kita bahwa anak yang sering menonton TV cenderung :
  • Anak yang sering menonton TV cenderung gemuk, karena malas bergerak dan banyak makan selama ia menonton.
  • Atau sebaliknya anak menjadi malas makan dan tidak mau diganggu saat menonton, sehingga menjadi kurus, pucat dan malas.
  • Akibatnya menonton TV yang berlebihan, secara fisik tidak sehat, disamping membuat kerusakan otak.
  • Secara sosial emosional akan menimbulkan kurangnya interaksi sosial dengan orang lain, menarik diri, dan bersikap agresif,d an mengganggu proses belajar anak.
  • Juga menyebabkan anak bersikap teledor karena kurang konsentrasi, sehingga tidak mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, tidak mandiri, dan tidak memahami sopan santun.
Apa yang Seharusnya dilakukan Orang Tua ?
Setelah kita melihat bagaimana dampak yang bisa ditimbulkan oleh tayangan televise terhadap kerusakan otak anak, maka apa yang seharusnya kita lakukan sebagai orang tua dan pendidik ?
Ibu dan Bapak, langkah-langkah berikut ini bisa dilakukan agar isi media tidak membahayakan bagi perkembanan dan perilaku anak.
  1. Orangtua sebaiknya menanamkan moral dan nilai-nilai agama sejak dini kepada anak agar anak mempunyai ketahanan jiwa sehingga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang buruk.
  2. Mendampingi anak saat menonton televise, agar orangtua dapat menjelaskan kepada anak tentang tayangan mana yang baik dan mana yang buruk, dan mana yang sebaiknya ditiru dan yang harus dihindari.
  3. Pengalihan kebutuhan menonton televise dengan cara memberikan pilihan kegiatan yang lebih bermanfaat dan menarik, misalnya mengajak anak untuk bermain, membacakan cerita, atau berolahraga bersama.
  4. Menentukan jam dan acara yang boleh ditonton oleh anak, dengan memberikan penjelasan kepada anak mengapa acara tersebut boleh ditonton atau tidak.
  5. Memberikan keteladanan yang baik bagi anak, misalnya jika orangtua melarang anak untuk menonton tayangan televise, sebaiknya orangtua juga tidak menonton acara tersebut.
  6. Menempatkan televise pada ruangan umum yang dapat dilihat oleh semua keluarga, sehingga orangtua dapat mengontrol tayangan yang dilihat oleh anak.
  7. Meletakkan televisi denga jarak minimal lima kali diagonal/televisi dari tempat duduk.
  8. Mengatur channel televisi sehingga anak mengalami kesulitan ketika mencari program stasioun televisi, misalnya mengatur channel pada angka puluhan (20, 21, 22 dst).
Tips bagi orangtua agar otak anak berkembang maksimal :
  1. Mengajak anak bermain yang melibatkan aktifitas fisik, seperti main petak umpet, kuda-kudaan, berjalan di atas papan titian, meremas, melipat dan sebagainya.
  2. Mengajak anak bermain dengan permainan yang melatih otak untuk berfikir, seperti tebak gambar, mengenal buah-buahan dan binatang, mencari perbedaan dua gambar, mencari jejak, puzzle (bongkar pasang gambar), dan sebagainya.
  3. Mengajak anak bermain untuk mencari ide guna melatih kemampuan berbahasa dan mendorong anak untuk mengungkapkan pikirannya seperti tebak kata, cerita pengalaman, tanya jawab tentang apa yang disukai dan tidak disukai anak, dsb.
  4. Mengajak anak mendengarkan music dan melakukan gerakan sesuai dengan irama music, belajar bernyanyi lagu anak-anak, dst.
  5. Mengajak anak untuk bermain bersama teman dalam satu kelompok untuk melatih ketrampilan sosial dan emosionalnya.
Our little steps will mean a lot for the future of our children, so ACT now !!!

Artikel ini diambil dari : Pengaruh Media, Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal, Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, 2009. Dimaksudkan sebagai bentuk dukungan untuk sosialisasi “Pendidikan Media Literasi” untuk kepentingan anak, utamanya anak usia dini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar